Social Icons

Pages

Jumat, 01 November 2013

Politik Praktis Di Sekolah

Masa depan suatu bangsa berada di tangan para anak mudanya. Anak muda dalam hal ini adalah tentu saja para pelajar. Mereka sedang menimba ilmu untuk masa depan mereka. Saat mereka berhasil mencapai cita-cita, saat itulah bangsa tersebut dinilai berhasil. Keberhasilan mencapai cita-cita tersebut ditunjang oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah guru. Ya, guru yang menjadi fasilitator dan pengantar mereka dalam memahami suatu ilmu.
Banyak yang beranggapan menjadi guru itu adalah pekerjaan yang relatif mudah. Tinggal datang ke sekolah, mengajar, memberi tugas lalu pulang lagi ke rumah, selesai. Faktanya tak sesederhana itu. banyak yang lupa bahwa guru sekarang menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Bahkan untuk bisa disebut sebagai guru PNS, banyak yang rela mengorbankan sejumlah uang yang tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit. 
Mungkin karena hal tersebut, suasana di kantor guru menjadi seperti di dalam kantor perusahaan swasta. Aroma persaingan kian kental, saling sikut kian jelas, saling jegal dan menjilat kian terasa. Jikalau persaingan tersebut memunculkan kualitas yang lebih baik, itu akan bagus buat siswanya. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, banyak guru yang sibuk 'berpolitik' di sekolah sehingga melupakan kualitas mengajar mereka sendiri. Mereka sibuk mencari keuntungan dari politik mereka. Yang sudah punya jabatan strategis untuk peningkatan penghasilan, tak mau begitu saja mundur dan menyerahkan jabatannya kepada yang lain. Yang belum punya jabatan sibuk menjilat supaya dapat jabatan, atau setidaknya mendapatkan keuntungan dari jabatan yang di jabat orang lain.
Fenomena yang memprihatinkan, tetapi itu nyata. Setidaknya itu yang saya rasakan selama keberadaan saya di salah satu  SMA Negeri di wilayah barat kabupaten Cirebon.
Hasilnya bisa ditebak, siswa yang notabene merupakan tanggung jawab guru, menjadi tidak sepenuhnya terpenuhi hak-hak mereka. Ketika para pendidik mulai berpolitik praktis di sekolah, para siswa pun mulai terbengkalai. Yah, dari banyaknya pendidik yang berpolitik di sekolah, masih ada segelintir yang entah karena tak tahu atau tak mau tahu atau bahkan tak mengerti untuk tahu yang masih menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. Mudah-mudahan segelintir orang ini masih bisa memberikan warna pendidikan kognitif yang seharusnya diterima siswa.
Yang jelas, untuk mencapai kemajuan, boleh dikatakan mustahil ketika para pendidik masih berpolitik, yang di atasnya masih sibuk mencari cara mempertahankan jabatan, dan puncaknya ketika dinas pendidikan nasional masih menciptakan percobaan-percobaan yang bukannya memajukan malah menyurutkan langkah kemajuan itu. Kebijakan yang selalu berubah demi menghabiskan anggaran 20% dari APBN. Tapi, mari sama-sama berharap, karena di dunia ini tak ada yang mustahil.

Minggu, 14 Juli 2013

Tentang Dia

Sampaikan salamku...
untuknya...
aku masih mencintainya

Syair lagu ini mengingatkanku lagi. Akan sebuah kisah yang pernah ku alami. Kesalahan terbesar yang pernah gw lakukan. Tapi karena kesalahan itu juga gw bisa sampai pada fase kehidupan gw sekarang.
Dia adalah wanita terhebat yg pernah gw punya. Wanita paling setia yg pernah ada mendampingi gw. Cuman karena gw aja yg bego ga bisa ngeliat kesetiaan yang jadi nilai lebihnya. Ciaaa...bahasa gw galau banget,mirip ABG jadinya.
Orang bakal ngerasa apa yang dia punya itu penting kalo udah kehilangan. Petuah bijak yg walaupun agak maksa tapi menurut gw emang pas buat gw. Maksa banget. Biarin lah... 
Akh..bukan bermaksud meratapi, tapi memang terkadang ada sedikit perih kalo ingat alasan kenapa kita (gue ma dia, bukan lo!!) bisa bubar. Swear perih bro..kaya disilet2 7x trus yg sisa siletannya disiletin lagi ampe kecil-kecil...bussset sadis banget...jangan ada yg terinspirasi yah...
hmmm..kehilangan dia membawa gue dalam fase hidup gue sekarang. Mudah-mudahan gue lebih bisa menghargai apa yg gue dapet sekarang. Iya deh,elo juga..yg ngerasa kesindir aje tapi...