Masa depan suatu bangsa berada di tangan para anak mudanya. Anak muda dalam hal ini adalah tentu saja para pelajar. Mereka sedang menimba ilmu untuk masa depan mereka. Saat mereka berhasil mencapai cita-cita, saat itulah bangsa tersebut dinilai berhasil. Keberhasilan mencapai cita-cita tersebut ditunjang oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah guru. Ya, guru yang menjadi fasilitator dan pengantar mereka dalam memahami suatu ilmu.
Banyak yang beranggapan menjadi guru itu adalah pekerjaan yang relatif mudah. Tinggal datang ke sekolah, mengajar, memberi tugas lalu pulang lagi ke rumah, selesai. Faktanya tak sesederhana itu. banyak yang lupa bahwa guru sekarang menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Bahkan untuk bisa disebut sebagai guru PNS, banyak yang rela mengorbankan sejumlah uang yang tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit.
Mungkin karena hal tersebut, suasana di kantor guru menjadi seperti di dalam kantor perusahaan swasta. Aroma persaingan kian kental, saling sikut kian jelas, saling jegal dan menjilat kian terasa. Jikalau persaingan tersebut memunculkan kualitas yang lebih baik, itu akan bagus buat siswanya. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, banyak guru yang sibuk 'berpolitik' di sekolah sehingga melupakan kualitas mengajar mereka sendiri. Mereka sibuk mencari keuntungan dari politik mereka. Yang sudah punya jabatan strategis untuk peningkatan penghasilan, tak mau begitu saja mundur dan menyerahkan jabatannya kepada yang lain. Yang belum punya jabatan sibuk menjilat supaya dapat jabatan, atau setidaknya mendapatkan keuntungan dari jabatan yang di jabat orang lain.
Fenomena yang memprihatinkan, tetapi itu nyata. Setidaknya itu yang saya rasakan selama keberadaan saya di salah satu SMA Negeri di wilayah barat kabupaten Cirebon.
Hasilnya bisa ditebak, siswa yang notabene merupakan tanggung jawab guru, menjadi tidak sepenuhnya terpenuhi hak-hak mereka. Ketika para pendidik mulai berpolitik praktis di sekolah, para siswa pun mulai terbengkalai. Yah, dari banyaknya pendidik yang berpolitik di sekolah, masih ada segelintir yang entah karena tak tahu atau tak mau tahu atau bahkan tak mengerti untuk tahu yang masih menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. Mudah-mudahan segelintir orang ini masih bisa memberikan warna pendidikan kognitif yang seharusnya diterima siswa.
Yang jelas, untuk mencapai kemajuan, boleh dikatakan mustahil ketika para pendidik masih berpolitik, yang di atasnya masih sibuk mencari cara mempertahankan jabatan, dan puncaknya ketika dinas pendidikan nasional masih menciptakan percobaan-percobaan yang bukannya memajukan malah menyurutkan langkah kemajuan itu. Kebijakan yang selalu berubah demi menghabiskan anggaran 20% dari APBN. Tapi, mari sama-sama berharap, karena di dunia ini tak ada yang mustahil.
Fenomena yang memprihatinkan, tetapi itu nyata. Setidaknya itu yang saya rasakan selama keberadaan saya di salah satu SMA Negeri di wilayah barat kabupaten Cirebon.
Hasilnya bisa ditebak, siswa yang notabene merupakan tanggung jawab guru, menjadi tidak sepenuhnya terpenuhi hak-hak mereka. Ketika para pendidik mulai berpolitik praktis di sekolah, para siswa pun mulai terbengkalai. Yah, dari banyaknya pendidik yang berpolitik di sekolah, masih ada segelintir yang entah karena tak tahu atau tak mau tahu atau bahkan tak mengerti untuk tahu yang masih menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. Mudah-mudahan segelintir orang ini masih bisa memberikan warna pendidikan kognitif yang seharusnya diterima siswa.
Yang jelas, untuk mencapai kemajuan, boleh dikatakan mustahil ketika para pendidik masih berpolitik, yang di atasnya masih sibuk mencari cara mempertahankan jabatan, dan puncaknya ketika dinas pendidikan nasional masih menciptakan percobaan-percobaan yang bukannya memajukan malah menyurutkan langkah kemajuan itu. Kebijakan yang selalu berubah demi menghabiskan anggaran 20% dari APBN. Tapi, mari sama-sama berharap, karena di dunia ini tak ada yang mustahil.